Surabaya (beritajatim) – Di antara ragam kuliner unik Surabaya, warung Nasi Bebek Tugu Pahlawan tetap eksis di tengah arus inovasi hidangan modern.
Usaha rumahan yang berada dekat Monumen Tugu Pahlawan kini telah mencapai generasi ketiga, dipimpin oleh Muklis, penerus dari keluarga tersebut.
Muklis menjelaskan bahwa usaha ini berasal dari neneknya, kemudian diteruskan oleh ibunya, sebelum akhirnya diserahkan kepadanya.
“Saya hanya melanjutkan saja. Sejak lama sudah menjadi usaha keluarga,” katanya.

Nama “Bebek Tugu Pahlawan” muncul bukan dari keluarga, tetapi dari pelanggan yang lebih gampang mengingat lokasi yang dekat dengan Monumen Tugu Pahlawan.
“Mula-mula mereka menyebutnya ‘Bebek Tugu Palawan’, ‘Bebek Pahlawan’. Secara perlahan, nama tersebut menjadi identik,” tambahnya.
Paket “Super” adalah menu paling populer yang dipesan, yaitu potongan bebek ukuran besar dengan daging yang lebih tebal.

Dijual dengan harga Rp5.000 hingga Rp28.000, menu ini menjadi pilihan banyak orang karena tekstur dagingnya yang lembut.
“Yang membuatnya berbeda dari tempat lain mungkin rempah yang meresap dan daging yang lembut.” “Jika bisa ditukar, maka alot,” kata Muklis.
Walaupun era media sosial mengalami pertumbuhan pesat, promosi warung ini malah terjadi secara alami. Konten dari food vlogger yang hadir secara mandiri menjadi metode promosi tak langsung yang sangat efisien. “Kami hampir tidak pernah melakukan promosi.” Berjalanlah seperti biasa. “Yang terpenting adalah memperlakukan pelanggan seperti keluarga sendiri,” ujarnya.

Menurut Muklis, menjaga rasa yang konsisten selama bertahun-tahun adalah tantangan terbesar. Proses pemilihan bahan baku, pengolahan bumbu, sampai tahap penyajian dijaga dengan ketat dan diawasi langsung olehnya. “Intinya tetap konsisten.” Banyak pelanggan dari dulu hingga kini menyatakan rasanya tetap sama. “Itu yang membuat kami berterima kasih,” jelasnya.
Di balik kesuksesan tersebut, Muklis mengakui adanya kesedihan, terutama dari kritik negatif di media sosial. Ia menyatakan bahwa beberapa ulasan negatif muncul bukan dari pengalaman sejati, melainkan oleh orang-orang yang ingin merugikan usaha tersebut.
“Yang utama adalah mengutamakan kualitas.” “Orang yang sudah berhasil pasti akan menghadapi ujiannya,” ujarnya.

Harapan Muklis yang sederhana: usaha ini dapat terus maju dan dikenal secara lebih luas. Rencana untuk membuka cabang sudah dipertimbangkan, namun menurutnya keputusan itu hanya akan diambil jika warung pusat tidak lagi sanggup menampung pelanggan. “Impian itu ada, pasti.” “Tetapi kita akan melihat situasi selanjutnya,” katanya.
Tidak hanya dari perspektif pemilik, pandangan pelanggan juga memperkuat eksistensi kuliner legendaris ini.
Dimas, pelanggan dari Pasuruan, mengaku pertama kali mencobanya dua tahun lalu dan kembali karena menurutnya rasanya unik. “Saosnya hebat.” “Itu yang membuat ketagihan,” katanya.
Menurutnya, harga yang diberikan sebanding dengan mutu rasa. Ia bahkan merekomendasikan agar sambal dibuat lebih hot lagi. “Jika levelnya 1–10, saya ingin 9/10,” ujarnya seraya tertawa.

Dari atmosfer warung yang dinilai nyaman, cita rasa yang stabil, sampai sambal yang menjadi ikon, pelanggan seperti Dimas tidak ragu mengajak orang lain untuk berkunjung. “Selamat mencoba makan di sini, teman-teman.” “Lezat, memiliki keunikan tersendiri,” pesannya.
Di tengah ketatnya persaingan kuliner di Surabaya, Nasi Bebek Tugu Pahlawan tetap setia mempertahankan resep warisan yang sudah ada selama tiga generasi. Seperti kata Muklis, “Rasakan dan nikmati, Anda pasti akan menyukainya.”
Prayson Solavide Panjaitan
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala (UKWM) Surabaya

